Merawat Jejak Leluhur, Menjaga Harmoni Desa: Gotong Royong Bersihkan Punden Warnai Rangkaian Selamatan Desa Mojorejo 2026
- Jun 28, 2026
- Renza Agastha Merdeka
- Seni dan Budaya, Infrastruktur, Acara dan Kegiatan, Pemberdayaan, Lingkungan
Minggu, 28 Juni 2026, Pemerintah Desa Mojorejo bersama anggota LINMAS dan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Belajar Bersama Masyarakat (BBM) melaksanakan kerja bakti membersihkan sejumlah kawasan punden yang tersebar di Desa Mojorejo. Kegiatan difokuskan di Punden Dusun Kajang, Punden Sentono, serta Punden Mbok Tarminah di Dusun Ngandat sebagai bagian dari rangkaian Selamatan Desa Mojorejo Tahun 2026.
Kerja bakti tersebut menjadi salah satu tahapan penting setelah sebelumnya masyarakat memasang Terop Agung, janur, dan melakukan berbagai persiapan sebagai penanda bahwa Desa Mojorejo tengah menyambut hajatan bersama. Jika Terop Agung menjadi simbol keterbukaan desa dalam menyambut seluruh warga dan tamu, maka pembersihan punden merupakan bentuk penghormatan terhadap ruang-ruang bersejarah yang memiliki arti penting dalam perjalanan Desa Mojorejo.

Bagi masyarakat Jawa, punden bukan sekadar tempat yang dinaungi pepohonan besar atau lokasi yang telah ada sejak lama. Punden merupakan bagian dari jejak sejarah desa yang menyimpan cerita tentang asal-usul wilayah, para pendahulu, serta perjalanan masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjelang pelaksanaan Selamatan Desa, kawasan punden dipersiapkan agar berada dalam kondisi bersih, rapi, dan layak sebagai bagian dari rangkaian tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Tradisi membersihkan punden juga memiliki makna simbolis yang kuat. Dalam budaya Jawa dikenal pandangan bahwa sebelum melaksanakan hajatan besar, masyarakat terlebih dahulu melakukan "bersih lahir dan batin". Membersihkan lingkungan dipahami sebagai lambang menyingkirkan segala bentuk kekotoran, baik secara fisik maupun sebagai pengingat untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan antarsesama, serta memasuki rangkaian selamatan dengan hati yang bersih dan niat yang baik.
Di sisi lain, sebagian masyarakat juga masih memegang keyakinan turun-temurun bahwa punden merupakan tempat yang patut dihormati karena berkaitan dengan leluhur atau tokoh yang memiliki peran dalam sejarah desa. Dalam kajian antropologi, kepercayaan tersebut dipahami sebagai bagian dari sistem nilai budaya masyarakat Jawa. Penghormatan kepada punden bukan dimaksudkan untuk menyembah tempat ataupun makhluk gaib, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para pendahulu serta pengingat agar manusia selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan alam, sejarah, dan lingkungan tempat mereka hidup.
Keyakinan tersebut juga memiliki sisi yang rasional. Hampir seluruh punden di Jawa berada di kawasan yang dipenuhi pepohonan besar, vegetasi alami, maupun sumber mata air. Apabila kawasan ini tidak dirawat, semak belukar akan tumbuh liar, ranting-ranting kering dapat membahayakan, saluran air berpotensi tersumbat, dan area tersebut bisa menjadi tempat berkembangnya berbagai hewan liar. Melalui kerja bakti, masyarakat tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi sekaligus melestarikan ruang terbuka hijau, menjaga kebersihan lingkungan, serta mempertahankan kawasan yang memiliki nilai ekologis bagi desa.
Kegiatan ini juga memperlihatkan semangat gotong royong yang masih terpelihara di tengah masyarakat Mojorejo. Kehadiran unsur pemerintah desa, LINMAS, serta mahasiswa Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi lintas generasi tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan nilai-nilai lokal kepada generasi muda sekaligus memperkuat kepedulian terhadap warisan budaya yang dimiliki desa.
Dalam konteks Selamatan Desa Mojorejo Tahun 2026 yang mengusung tema "Cakra Manggala Desa, Mulat Sarira Mangun Praja", kerja bakti membersihkan punden memiliki makna yang selaras dengan semangat tema tersebut. Sebelum membangun desa dan merayakan kebersamaan, masyarakat diajak terlebih dahulu untuk bercermin, merawat lingkungan, menghargai sejarah, serta memperkuat kebersamaan melalui gotong royong. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya diwujudkan melalui infrastruktur, tetapi juga melalui pelestarian nilai-nilai budaya, kepedulian terhadap lingkungan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur yang menjadi bagian dari identitas Desa Mojorejo.
Melalui kegiatan sederhana ini, masyarakat Mojorejo menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu yang dipertahankan tanpa makna. Tradisi menjadi ruang belajar bersama untuk menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempererat persaudaraan, menjaga kelestarian lingkungan, serta merawat ingatan kolektif tentang perjalanan desa. Nilai-nilai inilah yang terus diwariskan agar Selamatan Desa tidak hanya menjadi sebuah perayaan tahunan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemajuan desa harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap sejarah, budaya, dan alam yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.