Mahasiswa UM BBM Tematik Desa Mojorejo Edukasi Penggunaan Susu Formula yang Tepat sebagai Bagian dari Pemenuhan Gizi Anak
- Jun 27, 2026
- Renza Agastha Merdeka
- Pendidikan dan Pelatihan, Kesehatan dan Kesejahteraan, Sosial, Penelitian dan Pengabdian
Mojorejo, 27 Juni 2026. Upaya meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak terus dilakukan melalui berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya diwujudkan oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang yang tergabung dalam Program UM Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Tematik Desa Mojorejo Tahun 2026 melalui Program Kerja Utama GEMAS (Gerakan Edukasi Masyarakat tentang Gizi Anak dan Pangan Lokal). Kegiatan ini bertujuan memperkuat literasi masyarakat mengenai pentingnya pemberian nutrisi yang tepat sejak usia dini sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
.jpeg)
Kegiatan yang berlangsung di Aula Graha Abdi Praja Kantor Desa Mojorejo diikuti oleh para ibu, orang tua, kader kesehatan, serta masyarakat setempat. Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan dari perwakilan Pemerintah Desa Mojorejo serta tim mahasiswa. Selanjutnya, peserta mengerjakan pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal mengenai gizi anak sebelum mengikuti rangkaian materi edukasi.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah edukasi mengenai penggunaan susu formula secara tepat. Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Selain mengandung zat gizi yang lengkap dan mudah diserap tubuh, ASI juga mengandung antibodi alami, terutama Imunoglobulin A (IgA), yang berperan penting dalam membantu melindungi bayi dari berbagai infeksi. Oleh karena itu, pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) sesuai usia tetap menjadi rekomendasi utama dalam praktik kesehatan.
Meski demikian, peserta juga diberikan pemahaman bahwa terdapat kondisi tertentu yang memungkinkan penggunaan susu formula. Misalnya ketika terdapat indikasi medis berdasarkan penilaian tenaga kesehatan, ASI tidak tersedia atau jumlahnya belum dapat memenuhi kebutuhan bayi, maupun ketika ibu mengalami kondisi kesehatan tertentu yang tidak memungkinkan untuk memberikan ASI. Penjelasan ini diberikan agar masyarakat memiliki pemahaman yang seimbang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang kurang tepat mengenai pemberian susu formula.
Selain membahas kapan susu formula dapat digunakan, peserta juga memperoleh edukasi mengenai cara menyiapkan susu formula yang aman. Materi mencakup penggunaan air bersuhu minimal 70 derajat Celsius untuk membantu mengurangi risiko bakteri yang mungkin terdapat pada susu formula bubuk, pentingnya mencuci tangan sebelum menyiapkan susu, menjaga kebersihan botol dan peralatan makan bayi, serta memperhatikan batas waktu penyimpanan susu formula yang telah dibuat agar tetap aman dikonsumsi. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu orang tua mengurangi risiko kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan anak.
Agar materi lebih mudah dipahami, sesi edukasi dikemas secara interaktif melalui permainan kuis, diskusi, dan tanya jawab. Peserta diajak membedakan berbagai mitos dan fakta yang sering berkembang di masyarakat mengenai pemberian ASI maupun susu formula. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung, menunjukkan tingginya kepedulian orang tua terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta kembali mengerjakan post-test sebagai bentuk evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah mengikuti edukasi. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif peserta selama kegiatan, panitia juga membagikan doorprize kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan maupun aktif dalam sesi diskusi.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan webinar mengenai gizi anak yang menghadirkan narasumber berkompeten di bidangnya. Materi webinar membahas pentingnya pemenuhan gizi seimbang, pencegahan stunting sejak dini, serta pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber nutrisi keluarga yang mudah diperoleh, bergizi, dan bernilai ekonomis. Melalui pembahasan tersebut, peserta diajak memahami bahwa pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi ibu dan anak, praktik menyusui yang optimal, pemberian MPASI sesuai usia, penerapan pola asuh yang baik, hingga pemanfaatan bahan pangan lokal yang beragam.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya peningkatan literasi kesehatan masyarakat, tim mahasiswa juga menyerahkan media edukasi berupa poster mengenai gizi anak serta paket sayuran kepada peserta. Penyerahan tersebut menjadi simbol pentingnya membangun kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan memanfaatkan potensi pangan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Program GEMAS, mahasiswa UM BBM Tematik Desa Mojorejo Tahun 2026 berharap edukasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan nutrisi anak berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan dan bukti ilmiah. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan edukasi, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal serta memperkuat upaya pencegahan stunting di Desa Mojorejo melalui keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat.
Kegiatan ini sejalan dengan berbagai rekomendasi nasional dan internasional yang menempatkan edukasi gizi sebagai salah satu langkah penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak. Dengan semakin baiknya literasi masyarakat mengenai pemberian ASI, penggunaan susu formula secara tepat apabila diperlukan, serta pentingnya gizi seimbang, diharapkan setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, aktif, dan berkembang secara optimal sejak awal kehidupan.
Sumber: Kelompok Kisah Kasih UM BBM Tematik Desa Mojorejo 2026