Wamenbud Kunjungi Replika Prasasti Sangguran di Mojorejo: Harapan Baru Menuju Repatriasi Sejarah Bangsa

  • Nov 08, 2025
  • Renza Agastha Merdeka
  • Seni dan Budaya, Pemerintahan, Pariwisata

Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Giring Ganesha, pada 8 November 2025 mengunjungi lokasi keberadaan replika Prasasti Sangguran yang terletak di Punden Mbok Tarminah, Dusun Ngandat, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Kunjungan ini menjadi bagian penting dalam proses menuju repatriasi atau pemulangan kembali Prasasti Sangguran ke tanah asalnya, sekaligus merupakan salah satu rangkaian kegiatan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) Nusantaraya Senyawa Malang Raya 2025.

Kehadiran Wamenbud disambut hangat oleh Kepala Desa Mojorejo, Rujito, bersama Ki Siswanto Galuh Aji selaku pengasuh dan pegiat budaya, Tokoh Kampung Kerukunan Umat Beragama (KKUB), serta tokoh masyarakat dan warga setempat. Dalam suasana yang akrab dan penuh makna, kunjungan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah, pelaku budaya, dan masyarakat desa mengenai warisan sejarah yang bernilai tinggi.

Dalam kesempatan itu, Ki Siswanto Galuh Aji menceritakan asal-usul pembuatan replika Prasasti Sangguran. Ia menjelaskan bahwa replika tersebut dibuat atas dasar kecintaan masyarakat Mojorejo terhadap peninggalan sejarah yang menjadi simbol jati diri dan kebanggaan desa. “Prasasti ini bukan sekadar batu beraksara kuno, melainkan saksi peradaban yang lahir dari tanah Mojorejo. Kami ingin generasi muda mengenal dan menjaga sejarahnya sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Wamenbud Giring Ganesha dalam sambutannya menegaskan bahwa upaya repatriasi Prasasti Sangguran akan terus berjalan. Ia menjelaskan bahwa proses pemulangan ini kini tidak lagi bersifat Government to Government (G2G), melainkan telah bergeser menjadi “Government to Family” (G2F). Hal ini dikarenakan prasasti asli kini berada di tanah milik keluarga Lord Minto di Skotlandia, bangsawan Inggris yang pada masa lampau menerima prasasti tersebut sebagai hadiah dari Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1828 Masehi.

“Pemerintah Indonesia terus berupaya dengan penuh hormat dan diplomasi agar peninggalan bersejarah ini bisa kembali ke tanah asalnya,” ujar Giring dengan tegas namun hangat.

Kepala Desa Mojorejo, Rujito, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah desa dan masyarakat Mojorejo siap menyambut kembalinya Prasasti Sangguran. Ia menuturkan, desa telah menyiapkan lahan khusus dalam area mega proyek pembangunan Desa Mojorejo, yang nantinya akan menjadi lokasi Museum Sangguran. Museum tersebut diharapkan menjadi destinasi wisata sejarah dan edukasi yang dapat memperkenalkan peradaban masa lampau kepada generasi mendatang.

“Kami ingin menjadikan kembalinya Prasasti Sangguran bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga momentum kebangkitan nilai-nilai budaya dan identitas desa,” tutur Rujito.

Kunjungan ini meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat. Sorot mata warga yang hadir memancarkan harapan cerah akan kembalinya salah satu bagian penting dari sejarah Tanah Merdikan, sebutan lama bagi Mojorejo sebagai wilayah yang bebas dan berdaulat sejak masa kerajaan.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, pegiat budaya, sejarawan, dan masyarakat, repatriasi Prasasti Sangguran bukan hanya menjadi upaya pemulangan artefak, melainkan pengembalian ruh sejarah bangsa kepada akar budayanya sendiri.