Stunting: Fakta Global dan Keterkaitannya dengan Indonesia

  • Dec 06, 2024
  • Renza Agastha Merdeka
  • Opini dan Editorial

Fakta tentang Stunting Secara Global

Stunting adalah masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Berdasarkan laporan terbaru WHO, UNICEF, dan Bank Dunia (2023), sekitar 148,1 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting, yang setara dengan 22,3% populasi global anak balita. Sebagian besar kasus stunting ditemukan di Asia (52%) dan Afrika (43%).

Masalah ini tidak hanya disebabkan oleh kekurangan gizi, tetapi juga terkait erat dengan kemiskinan, sanitasi buruk, dan akses terbatas ke layanan kesehatan. Selain itu, pola makan yang tidak memadai selama masa kehamilan dan 1.000 hari pertama kehidupan anak sangat berkontribusi terhadap prevalensi stunting.

Secara global, stunting berdampak pada produktivitas ekonomi dan berkontribusi pada siklus kemiskinan antar generasi. WHO mencatat bahwa untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, upaya global harus lebih terarah, termasuk dalam meningkatkan akses terhadap makanan bergizi dan layanan kesehatan.

Kondisi Stunting di Indonesia

Di Indonesia, prevalensi stunting masih menjadi tantangan besar, meskipun telah terjadi penurunan dari 24,4% (2018) menjadi 21,6% (2022). Namun, angka ini masih jauh dari target nasional 14% pada 2024. Seperti di negara berkembang lainnya, penyebab utama stunting di Indonesia meliputi:

  1. Kemiskinan dan Akses Gizi: Banyak keluarga di daerah terpencil kesulitan menyediakan makanan bergizi.
  2. Sanitasi yang Buruk: Praktik sanitasi dan akses air bersih yang kurang baik meningkatkan risiko infeksi, yang memperburuk status gizi anak.
  3. Kurangnya Edukasi: Rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pola makan dan perawatan anak selama periode krusial.

Berbagai wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua mencatat angka stunting yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.

Langkah Penanganan dan Solusi

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan beberapa program untuk mengatasi masalah ini, seperti:

  • Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk ibu hamil dan balita.
  • Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) untuk memperbaiki kondisi sanitasi.
  • Sinergi Antar Kementerian melalui Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) dan peningkatan layanan Posyandu.

Selain itu, keterlibatan organisasi internasional dan sektor swasta memberikan peluang untuk mempercepat pencapaian target nasional. Kebijakan berbasis bukti, seperti yang dianjurkan oleh WHO, termasuk fokus pada intervensi gizi spesifik dan edukasi masyarakat, perlu terus diperkuat.

Kesimpulan

Stunting adalah masalah yang kompleks dan multidimensi, baik secara global maupun di Indonesia. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor dan meningkatkan akses ke layanan kesehatan, sanitasi, serta makanan bergizi, tantangan ini dapat diatasi. Mengatasi stunting bukan hanya soal meningkatkan angka pertumbuhan, tetapi juga soal menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif untuk masa depan bangsa.


Daftar Rujukan

Levels and trends in child malnutrition: UNICEF/WHO/World Bank Group joint child malnutrition estimates: key findings of the 2023 edition

Malnutrition

UNICEF/WHO/The World Bank: Joint child malnutrition estimates (JME)

Stunting prevalence among children under 5 years of age (%) (model-based estimates)

The state of food security and nutrition in the world 2024