Praktik Eco Enzyme (EE): Menguatkan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah bersama PKK Desa Mojorejo
- Apr 04, 2026
- Renza Agastha Merdeka
- Teknologi dan Inovasi, Sosial, Pemberdayaan, Lingkungan
Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan bersama, warga Desa Mojorejo mulai menapaki langkah kecil yang bermakna. Bukan dengan teknologi rumit atau program besar yang sulit dijangkau, tetapi dari sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian: limbah dapur rumah tangga. Melalui pembuatan eco enzyme, masyarakat perlahan diajak melihat kembali bahwa sampah, khususnya sampah organik, bukan sekedar sisa yang harus dibuang, melainkan potensi yang bisa dimanfaatkan.

Kegiatan ini dilakukan oleh Ibu-ibu PKK dan penggiat eco enzyme Desa Mojorejo. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai penggerak. Ada semangat gotong royong yang terasa, di mana pengetahuan dibagikan, praktik dicoba bersama, dan kesadaran ditumbuhkan. Ini menjadi penting, karena persoalan sampah sejatinya tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu pihak.
Jika melihat lebih luas, persoalan sampah organik memang tidak bisa dianggap sepele. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa lebih dari separuh komposisi sampah di Indonesia berasal dari jenis organik. Sayangnya, sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan tanpa pengolahan yang optimal. Dampaknya bukan hanya soal bau atau kotor, tetapi juga berpotensi menimbulkan pencemaran dan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Di sinilah eco enzyme menjadi salah satu alternatif yang relevan. Dengan memanfaatkan sisa buah dan sayur, dicampur gula dan air, lalu difermentasi dalam waktu tertentu, masyarakat bisa menghasilkan cairan serbaguna. Hasilnya bisa digunakan untuk membersihkan rumah, menyuburkan tanaman, bahkan membantu mengurai limbah. Sederhana, murah, dan bisa dilakukan oleh siapa saja di rumah masing-masing.
Bagi Mojorejo, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung keberadaan TPS3R. Selama ini, keberhasilan TPS3R sangat bergantung pada bagaimana masyarakat memilah sampah sejak dari sumbernya. Ketika sampah organik bisa diolah sendiri melalui eco enzyme, beban yang masuk ke TPS3R otomatis berkurang. Artinya, pengelolaan sampah bisa berjalan lebih efektif, tidak menumpuk, dan lebih terarah.
Namun, yang menjadi catatan penting bukan hanya pada proses pembuatannya, melainkan pada keberlanjutannya. Membuat eco enzyme sekali atau dua kali tentu mudah, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan adalah tantangan yang sebenarnya. Perlu kesadaran, ketelatenan, dan kemauan untuk berubah. Di sinilah peran komunitas menjadi sangat menentukan. PKK dan berbagai kelompok masyarakat memiliki posisi strategis untuk terus mengingatkan, mengajak, sekaligus memberi contoh.



Gerakan ini pada akhirnya bukan hanya soal mengolah sampah, tetapi juga tentang membangun cara pandang baru. Bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Justru dari dapur rumah, dari sisa yang sering dianggap tidak berguna, perubahan bisa dimulai. Jika dilakukan secara bersama dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin eco enzyme akan menjadi bagian dari budaya baru masyarakat Mojorejo.
Harapannya, langkah ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Perlu ada penguatan, baik melalui edukasi yang terus menerus, pendampingan, maupun dukungan dari pemerintah desa. Dengan begitu, apa yang hari ini dimulai sebagai gerakan kecil, ke depan bisa menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Sumber: Ketua TP PKK Desa Mojorejo