Pertemuan Kader Posyandu Mojorejo Bahas Penguatan Administrasi dan Inovasi Layanan

  • Aug 19, 2025
  • Renza Agastha Merdeka
  • Kesehatan dan Kesejahteraan, Teknologi dan Inovasi, Acara dan Kegiatan, Pemberdayaan, Pelayanan

Mojorejo, 19 Agustus 2025 – Bertempat di Graha Abdi Praja Desa Mojorejo, kader posyandu mengikuti pertemuan rutin yang membahas evaluasi kinerja serta rencana pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat. Pertemuan ini dipimpin oleh Bu Narti dan Bu Rina yang menyampaikan beberapa arahan strategis untuk meningkatkan kualitas posyandu di Mojorejo.

Dalam arahannya, Bu Narti menekankan pentingnya posyandu melakukan studi banding atau melihat praktik di posyandu lain sebagai tolok ukur agar pelayanan di Mojorejo dapat berkembang lebih baik. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap tingginya partisipasi masyarakat, khususnya para kader yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaga untuk mendukung kegiatan posyandu.

Lebih lanjut, Bu Narti menegaskan bahwa perbaikan administrasi posyandu menjadi salah satu prioritas utama. Setiap kegiatan harus terdokumentasi dengan baik melalui rekapitulasi dan pengisian buku kegiatan secara rutin. Selain itu, para kader juga akan mendapatkan pembekalan untuk melakukan kunjungan kepada warga penyandang disabilitas, sehingga pelayanan posyandu lebih inklusif.

Dari sisi organisasi, posyandu ILP kini telah menjadi bagian dari Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) yang strukturnya harus memuat 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM). Enam bidang tersebut meliputi: pendidikan, perumahan, pekerjaan umum, sosial, kesehatan, dan ketertiban/keamanan. Bu Narti mencontohkan bahwa bidang pendidikan dapat bersinergi dengan guru PAUD, sementara bidang ketertiban dapat melibatkan Linmas. Meski tanpa insentif, kader diharapkan mampu menjalankan peran sesuai struktur yang ada.

Ia juga mendorong munculnya minimal lima inovasi posyandu yang nantinya dapat diikutsertakan dalam lomba Inovasi Layanan Posyandu (ILP). Inovasi ini diharapkan lahir dari kebutuhan masyarakat, misalnya menghubungkan murid PAUD dengan layanan posyandu sebagai bentuk sinergi lintas sektor.

Sementara itu, Bu Rina menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan bagi lansia dan penderita Penyakit Tidak Menular (PTM), khususnya obesitas. Menurutnya, kelemahan yang ditemukan dalam asesmen lansia bukan berarti menjadi hambatan, melainkan dasar untuk perbaikan layanan. Ia juga menjelaskan bahwa form penilaian aktivitas harian (ADL) yang dulu diisi olehnya kini akan dilanjutkan oleh kader, dengan menggunakan link formulir terbaru yang akan segera dibagikan.

Selain itu, Bu Rina mendorong adanya pengembangan layanan posyandu khusus lansia, seperti Flamboyan kedua, yang diharapkan dapat menjadi model pelayanan lebih baik dibanding sebelumnya. Ia menambahkan bahwa data stunting Mojorejo dapat dikoordinasikan dengan Bu Narti untuk pemutakhiran program.

Dalam pertemuan ini juga diperkenalkan tenaga baru, yaitu Bidan Febrin dan Mbak Riska yang akan bertugas sebagai fasilitator posyandu. Kehadiran tenaga baru ini diharapkan mampu memperkuat layanan serta memperluas jangkauan pendampingan kesehatan masyarakat.

Sebagai penutup, kedua narasumber menegaskan bahwa hasil pertemuan kali ini masih akan terus dibahas dan ditindaklanjuti dalam kesempatan selanjutnya agar program kerja posyandu semakin terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi masyarakat Desa Mojorejo.