Lewat Film ‘Jatah’, KIM Mojorejo Angkat Pesan Kejujuran dalam Pengelolaan Desa

  • Dec 27, 2025
  • Renza Agastha Merdeka
  • Pemerintahan, Infrastruktur, Pemberdayaan

Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Mojorejo bersama Kepala Desa Mojorejo memproduksi sebuah film pendek berjudul “Jatah: Jangan Ditambah, Jangan Dikurang”. Film ini menjadi bagian dari upaya penyampaian pesan edukatif kepada masyarakat desa melalui media audio visual, khususnya terkait nilai kejujuran, tanggung jawab, dan integritas dalam pengelolaan pemerintahan desa.

Film pendek tersebut diproduksi sebagai wujud kemitraan antara KIM Mojorejo dan Pemerintah Desa Mojorejo dalam mendukung penyebaran informasi publik yang mudah dipahami, dekat dengan realitas warga, dan sarat pesan moral. Tema yang diangkat selaras dengan semangat Program Jaksa Jaga Desa, yakni pencegahan penyimpangan sejak dini melalui pemahaman etika, aturan, dan dampak dari setiap keputusan yang diambil oleh aparatur desa.

Cerita dalam film ini berangkat dari aktivitas sehari-hari di TPS3R Desa Mojorejo. Digambarkan bagaimana Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mengelola TPS3R memperjuangkan kesejahteraan para petugas kebersihan dengan mengajukan permohonan kenaikan gaji kepada Kepala Desa. Permohonan tersebut dikabulkan, namun di balik keputusan itu terselip praktik penyalahgunaan anggaran yang tidak diketahui oleh pihak KSM.

Alur cerita kemudian berkembang pada konflik batin Kepala Desa yang digambarkan mulai merasakan kegelisahan. Rasa bersalah itu muncul melalui simbol-simbol visual yang kuat: makanan berubah menjadi sampah, ruangan kerja yang terasa penuh kotoran, hingga bayangan pesan moral yang terus menghantuinya. Semua adegan ini dirancang untuk menunjukkan bahwa tindakan tidak jujur, sekecil apa pun, pada akhirnya akan berdampak luas, bukan hanya pada jabatan, tetapi juga pada keluarga dan kehidupan pribadi.

Film ini tidak menampilkan ceramah atau nasihat secara langsung. Pesan disampaikan secara halus melalui alur cerita, dialog sehari-hari, dan situasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kalimat penutup film, “lakukan saja apa yang sudah dituliskan dan tuliskan apa yang sudah dikerjakan, jangan ditambah jangan dikurang,” menjadi penegasan nilai utama yang ingin disampaikan kepada penonton.

Dalam proses produksinya, film ini melibatkan berbagai unsur masyarakat desa, mulai dari aparatur desa, pengelola TPS3R, hingga pemuda yang tergabung dalam tim kreatif. KIM Mojorejo berperan sebagai penggerak komunikasi, pengelola dokumentasi, serta pengemas pesan agar dapat diterima masyarakat luas melalui pendekatan visual yang sederhana namun bermakna.

Kepala Desa Mojorejo menyambut baik inisiatif ini dan menilai film pendek sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan integritas tanpa harus menggurui. Melalui tayangan audio visual, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah memahami bahwa pengelolaan desa bukan hanya soal administrasi, tetapi juga soal kejujuran dan tanggung jawab moral.

Dengan diproduksinya film “Jatah”, KIM Mojorejo menegaskan perannya sebagai jembatan informasi antara pemerintah desa dan masyarakat. Film ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bersama, sekaligus pengingat bahwa transparansi dan kejujuran adalah fondasi utama dalam membangun desa yang dipercaya warganya.