Gema Takbir dari Dua Dusun: Tradisi yang Menghidupkan Kebersamaan Warga Desa Mojorejo

  • Jun 05, 2025
  • Renza Agastha Merdeka
  • Pendidikan dan Pelatihan, Keagamaan, Acara dan Kegiatan, Pemuda, Lingkungan

Suasana malam menjelang Idul Adha 1446 Hijriah terasa berbeda di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Kamis malam (5/6), dua dusun di wilayah ini—Dusun Ngandat dan Dusun Kajang—menggelar takbir keliling secara serentak namun terpisah di wilayah masing-masing. Kendati tak berada di tempat yang sama, semangat kebersamaan dan sukacita menyambut Hari Raya Kurban menyatu dalam gema takbir yang menggema dari ujung ke ujung dusun.

Kegiatan yang dilaksanakan selepas salat Isya ini menjadi agenda tahunan masyarakat setempat untuk menyambut malam 10 Dzulhijjah dengan nuansa syiar Islam yang hangat dan meriah. Anak-anak dari Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) di masing-masing dusun menjadi peserta utama kegiatan ini. Mereka berjalan beriringan membawa obor dan lampion, didampingi oleh para orang tua dan wali santri yang turut serta menyemarakkan suasana.

Karena kondisi geografis yang memisahkan Dusun Ngandat dan Dusun Kajang oleh jalan raya provinsi yang cukup padat, kegiatan takbir keliling dilaksanakan secara mandiri di masing-masing wilayah. Hal ini demi menjaga keamanan para peserta, khususnya anak-anak yang mendominasi barisan takbir.

Rute takbir melintasi jalan-jalan perkampungan dengan iringan lantunan takbir yang dikumandangkan para santri. Sesekali, warga yang berada di depan rumah menyambut dengan senyum dan sapaan hangat, menciptakan suasana kampung yang hidup dan penuh kekeluargaan.

Yang menarik, khususnya di Dusun Ngandat yang dikenal sebagai Kampung Kerukunan Umat Beragama, takbir keliling ini bukan hanya menjadi milik umat Islam semata. Sejumlah warga non-Muslim, termasuk penganut agama Buddha, dengan sukarela turut membantu jalannya kegiatan, baik dalam pengaturan lalu lintas, pengawalan peserta, hingga dukungan logistik sederhana. Partisipasi ini menjadi cermin nyata dari harmoni sosial yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Dusun Ngandat.

“Ini sudah menjadi bagian dari budaya kami. Meskipun berbeda keyakinan, kami tetap saling bantu. Karena kami semua tinggal di kampung yang sama,” ujar salah satu warga non-Muslim yang turut mendampingi jalannya kegiatan.

Meski sederhana, kegiatan ini mengandung makna yang mendalam. Selain menjadi bagian dari syiar Islam, takbir keliling ini menjadi sarana membangun karakter dan kebersamaan generasi muda. Mereka diajak untuk memahami nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta semangat menyambut hari besar keagamaan secara khidmat dan menyenangkan.

Takbir keliling di Mojorejo adalah cerminan bagaimana tradisi keagamaan bisa menjadi ruang interaksi sosial lintas usia dan keyakinan. Semangat yang terpancar dari kegiatan ini bukan hanya tentang menyambut hari raya, tapi juga tentang merawat persaudaraan dan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat.

Keesokan harinya, warga akan kembali berkumpul di masjid dan lapangan sekitar untuk melaksanakan salat Idul Adha, karena bertepatan dengan hari Jumat penyembelihan hewan kurban dilaksanakan pada hari Sabtu. Namun gema takbir yang bergema di dua dusun malam itu akan tetap membekas sebagai momen hangat yang mempererat persaudaraan dan toleransi antarwarga Mojorejo.