Andong-Andong Mojorejo: Warisan Leluhur yang Tetap Mengalir dalam Doa dan Budaya
- Jul 03, 2025
- Renza Agastha Merdeka
- Seni dan Budaya, Pemerintahan, Sosial, Pariwisata, Acara dan Kegiatan
Dusun Ngandat Kidul, Mojorejo – 3 Juli 2025
Di tengah hiruk pikuk perubahan zaman, masyarakat Dusun Ngandat Kidul, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, tetap setia melestarikan tradisi turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Salah satu manifestasi dari komitmen tersebut tercermin dalam pelaksanaan Selamatan Punden Mbok Tarminah, yang digelar setiap tahun bertepatan dengan Kamis Legi. Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang spiritual, tetapi juga ruang penguatan nilai sosial dan budaya lokal yang tetap relevan hingga kini.
Pelaksanaan selamatan diawali dengan barikan, yakni membawa sesaji dan hasil bumi menuju sumber air yang menghidupi dusun, disertai doa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pementasan kesenian Andong-Andong, sebuah tradisi lokal yang menjadi bagian penting dalam ritual punden. Meski namanya mengandung kata “andong”, kesenian ini tidak merujuk pada kendaraan tradisional seperti delman, melainkan merupakan pertunjukan musik dan tari khas yang bermuatan nilai simbolik serta pesan sosial.
Menurut Cak Pentol, salah satu pemerhati budaya Mojorejo, kesenian Andong-Andong memiliki akar yang kuat dari budaya tayuban. Namun, dalam konteks Mojorejo, Andong-Andong berkembang menjadi medium yang lebih santun dan edukatif. “Makna utamanya adalah penyatuan energi masyarakat dalam satu gerak kebudayaan. Tidak ada persaingan, yang ada adalah kesatuan niat untuk menghormati asal-usul,” jelasnya.
Kepala Dusun Ngandat juga menegaskan bahwa pelestarian tradisi ini menjadi agenda bersama warga sebagai upaya menjaga harmoni sosial. “Tradisi ini bukan hanya milik orang tua, tapi juga bagian dari identitas desa yang perlu dipahami generasi muda. Kami ingin mereka tahu bahwa tempat ini dibangun atas doa dan perjuangan, bukan tiba-tiba ada,” ujarnya.
Selamatan Punden Mbok Tarminah dan kesenian Andong-Andong bukan sekadar acara seremonial. Keduanya mengandung muatan nilai yang kuat, seperti gotong royong, spiritualitas lokal, serta penghargaan terhadap sejarah desa. Melalui kegiatan ini, masyarakat secara tidak langsung diajak untuk terus memelihara rasa memiliki terhadap lingkungan dan warisan leluhur.
Antusiasme warga juga terlihat dari partisipasi kolektif dalam mempersiapkan dan menjalankan seluruh rangkaian acara. Dari anak-anak hingga orang tua, semua memiliki peran. Ini menunjukkan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, tetapi jembatan untuk masa depan yang berbasis pada nilai-nilai luhur.
Di tengah arus modernisasi yang terus melaju, pelestarian tradisi seperti ini menjadi penanda bahwa identitas suatu komunitas tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Mojorejo, dengan kesenian Andong-Andong-nya, memberi contoh bagaimana sebuah desa dapat terus bergerak maju tanpa meninggalkan warisan sejarah dan nilai-nilai kearifan lokal yang telah membentuknya.
Dengan roda Andong-Andong yang terus “berputar” dalam irama budaya, masyarakat Mojorejo membuktikan bahwa tradisi tidak hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi, diwariskan, dan dijaga bersama.